Palsukan Dokumen Pajak, Oknum Pegawai Bank dan Temannya Diseret ke Pengadilan

Seorang teller Bank Jambi, bernama Dika Luthfia, dan 4 orang lainnya, yakni Edi Kurniawan, Angga Praceteria Mutirona, Ivirandha Asharri dan Isniah, meloloskan bukti setoran bank tanpa divalidasi terlebih dahulu

Palsukan Dokumen Pajak, Oknum Pegawai Bank dan Temannya Diseret ke Pengadilan
Suasana Ruang Pengadilan Negeri Jambi (Ist)

BRITO.ID, BERITA JAMBI - Seorang teller Bank Jambi, bernama Dika Luthfia, dan 4 orang lainnya, yakni Edi Kurniawan, Angga Praceteria Mutirona, Ivirandha Asharri dan Isniah, meloloskan bukti setoran bank tanpa divalidasi terlebih dahulu.

Dalam sidang yang dipimpin Hakin Arfan Yani, menghadirkan sejumlah saksi, untuk menguatkan adanya kasus tersebut.

Menurut salah seorang saksi yang dihadirkan jaksa, yakni Dwi Handayani Pimpinan Cabang Pembantu Kantor Walikota Bank Jambi, mengatakan bahwa perbuatan tersebut, melanggar sistem kerja pada bank.

"Saya mengenal terdakwa Dika Luthfia, sebagai teller pada bank yang saya pimpin. Dika bertugas memproses setoran," kata saksi.

Terkait kasus ini, slip setoran sebesar Rp 225 juta lebih tidak divalidasi oleh Bank Jambi. Saksi mengetahui slip setoran tidak validasi, setelah dipertemukan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam kasus ini. 

“Saya melihat slip setoran itu di BPPRD Kota Jambi. Saat itu para terdakwa ada di ruangan yang sama. Dalam mekanisme pembayaran pajak di Bank Jambi, setoran wajib pajak diterima oleh teller. Kalau berkas belum lengkap, maka dikembalikan kepada wajib pajak. Teller tidak boleh menerima uang setoran wajib pajak," ungkapnya.

“Untuk penyetoran di atas Rp 50 juta harus ada user Otorisator. Selain itu, dari segi cetakan print out berbeda. Tidak ada aturan uang disimpan dulu oleh teller bank, kemudian slip setoran tanpa validasi dikembalikan kepada wajib pajak untuk melengkapi syarat," terangnya.

Penasehat hukum salah satu terdakwa, Fitri menerangkan, pihaknya sudah mendapatkan fakta-fakta persidangan. Bahwa, ada peluang perbuatan pidana dengan menggunakan sistem penyetoran.

“Peluang pidana bisa terjadi, jika oknum petugas bank melanggar karena bisa tidaknya setoran diinput adalah teller bank. Dengan kejadian itu, bisa dikatakan ada konspirasi,” ungkap Fitri.  

Edi Kurniawan bersama-sama dengan Virandha Asharri (berkas terpisah), Angga Pracetria Mutirona (berkas terpisah), Dika Luthfia Utami (berkas terpisah)dan Isniah (berkas terpisah), sekira Oktober 2019, didakwa melakukan tindak pidana sebagai orang yang melakukan, yang menyuruh lakukan atau turut serta melakukan, membuat surat palsu atau memalsukan surat. 

Awalnya, Edy Kasim Oscar mendatangi kantor BPPRD Kota Jambi untuk melakukan penyetoran pajak BPHTB. Kemudian bertemu dengan terdakwa Edi Kuriniawan yang telah menunggu di loket Bank Jambi. 

Selanjutnya Edi mendampingi saksi Edy Kasim Oscar menyetorkan uang atas pajak BPHTB sebesar Rp.274.650.000 yang terdiri 2 slip setoran. Masing-masing senilai Rp.222  juta dan senilai Rp.52.650.000, kemudian uang tersebut diterima oleh terdakwa Dika Luthfia Utami, selaku petugas teller Bank Jambi. 

Sebelum menerima uang setoran, terdakwa Dika sebelumnya sudah dihubungi oleh Edi Kurniawan, untuk menerima uang yang akan disetorkan oleh wajib pajak dan diberikan slip setoran. 

Namun uang tersebut tidak tercatat atau diinput dan divalidasi dalam system Bank Jambi. Sehingga ketika wajib pajak beserta Edi Kurniawan datang ke loket bank Jambi, terdakwa Dika sudah mengetahui tugasnya yakni menerima uang yang disetorkan oleh wajib pajak, kemudian membubuhkan paraf dan stempel Bank Jambi pada slip setoran tanpa ada validasi. 

Namun, slip setoran tidak diberikan kepada saksi Edy Kasim Oscar, dengan alasan berkas belum lengkap dan uang setoran tersebut tidak diinput, agar tidak terdata ke sistem rekening koran ke Kas Daerah maupun divalidasi ke dalam system Bank Jambi. Uang  itu disimpan oleh Dika Luthfia Utami untuk diberikan kembali kepada Edi Kurniawan.

Selanjutnya terdakwa Virandha bersama Angga Pracetria Mutirona, diajak oleh Edi Kurniawan untuk membuat stempel tiruan BPPRD Kota Jambi, lalu Edi Kurniawan meniru tanda tangan Fikri, Faisal dan Aling. 

Selanutnya Edi Kurniawan membubuhkan kedalam lembar SKPDKB-BPHTB, sehingga seolah-olah SKPDKB-BPHTB tersebut asli dan tidak dipalsu.

Pada Desember 2019, saksi Aling melakukan pengecekan terhadap dokumen permohonan pajak BPHTB Edy Kasim Oscar, ternyata Aling tidak menemukan transaksi yang masuk kedalam kas Daerah. 

Aling malah menemukan adanya ketidak sesuaian tanda tangan pada lembar SKPDKB-BPHTB atas nama Edy Kasim Oscar. Ini dikuatkan dengan Berita Acara Pemeriksaan Laboratorium Kriminalistik Polri Daerah Sumatera Selatan No. Lab : 74/DTF/2019 tertanggal 13 Januari 2020. 

Menurut dakwaan jaksa, pada kesimpulannya menyatakan, tanda tangan bukti QT adalah Non Identik terhadap tanda tangan pembanding KT atau dengan kata lain tanda tangan atas nama Aling, SE., ME yang dipersolakan pada butir I.A diatas dengan tanda tangan atas nama Aling, SE., ME / Aling, SE., ME Binti Sarsono Ong pembanding butir I.B merupakan tanda tangan yang berbeda.

Perbuatan para terdakwa mengakibatkan Edy Kasim Oscar mengalami kerugian sebesar Rp.274.650.000.

Penulis: Hendro Sandi

Editor: Rhizki Okfiandi